Konon, daya kerja rebusan daun sirsak dalam membasmi kanker 10.000 kali
lebih kuat daripada obat kimia yang biasa digunakan dalam kemoterapi. Selain
itu diklaim tidak menyebabkan mual dan merontokkan rambut. Belakangan, daun
sirsak memang jadi primadona. Khasiatnya dalam mengobati kanker sedang
dibicarakan di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya oleh masyarakat awam, namun
juga kalangan medis dan ilmuwan.
Di Indonesia, pohon sirsak bisa tumbuh tanpa
perawatan khusus di kebun atau halaman rumah. Buahnya pun bukan komoditi yang
bernilai jual tinggi.
Belum banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya, tanaman
yang bernama Latin Annona muricata ini sudah lazim dimanfaatkan sebagai obat.
Sejak berabad-abad yang lalu, suku Indian di kawasan Amerika Selatan
menggunakan kulit kayu, akar, daun, buah, dan bijinya untuk mengatasi berbagai
macam penyakit, seperti asma, rematik, gangguan liver, dan jantung. Nenek
moyang kita pun sudah sering memanfaatkan daun dan buahnya untuk mengatasi
gangguan sehari-hari, seperti anyang-anyangan (infeksi saluran kemih), ambeien,
batuk, bisul, cacingan, diare, gatal-gatal, dan masih banyak lagi.
Seiring berjalannya waktu, beberapa referensi
mencatat kekhasiatannya yang tidak lepas dari beberapa senyawa yang terkandung
di dalamnya. Batang dan daun tanaman sirsak kaya akan tanin, fitosterol,
kalsium oksalat, serta zat alkaloid. Sementara buahnya mengandung
banyakprotein, kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin C. Kandungan tersebut
membuat sirsak berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri, antijamur,
antikejang, dan antiradang.
Khasiat sirsak sebagai antitumor dan antikanker
konon bukan penemuan baru. Menurut beberapa sumber, risetnya sudah dilakukan
sejak puluhan tahun yang lalu oleh sebuah perusahaan obat di Amerika. Namun,
karena ada aturan dari pemerintah setempat yang mengatakan bahwa sumber alami
untuk obat tidak bisa dipatenkan, perusahaan itu merasa tidak bakal memperoleh
keuntungan. Akibatnya, ia memilih untuk menutup proyek penelitian, sekaligus
menyimpan rapat-rapat hasil risetnya pada masyarakat luas.
Pada tahun 1976, The National Cancer
Institute, Amerika, menemukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam batang,
daun, dan ranting daun sirsak, bernama annonaceous acetogenin, mampu menyerang
dan melumpuhkan sel kanker.
Lebih hebatnya lagi, sel kanker yang sudah resisten
terhadap obat bisa dilumpuhkan. Ini disebabkan, annonaceous acetogenin bekerja
dengan cara menghambat sekaligus merusak produksi adenine triphosphat (ATP)
yaitu semacam sumber energi bagi pertumbuhan sel kanker. Karena tidak
memperoleh makanan dan tenaga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
sel-sel kanker itu akhirnya mati.
Dengan perkataan lain, daun sirsak masih merupakan
pengobatan alternatif. Pasien yang berduit lebih memilih pengobatan kemoterapi
untuk mengatasi penyakit kankernya, karena konon ‘lebih ilmiah’ (walaupun
sangat sakit dan menderita) dan mereka mampu membayar mahal. Tapi bagi rakyat
kecil yg tidak mampu membayar pengobatan yang mahal, kini ada alternatif
pengobatan yang ‘tidak ada ruginya dicoba’, selain murah, juga mudah didapat.
DOSIS YANG PERNAH DICOBA ADALAH :
10 helai daun sirsak yg telah hijau tua/kering,
direbus dengan 3 gelas air (600cc), dan dibiarkan hingga tersisa satu gelas air
(200 cc). Setelah adem, lalu disaring dan diminum setiap pagi (ada beberapa
pasien yang minumpagi-sore). Efeknya, perut akan terasa hangat/panas, lalu
badan berkeringat deras.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar